#kuliner_malang
#omnivora_adventure
Menurut Dennys Lombard, dalam bukunya Nusa Jawa: Silang Budaya, asal mula Soto adalah makanan Cina bernama Caudo, pertama kali populer di wilayah Semarang. Dari
Caudo lambat laun menjadi Soto,
orang Makassar menyebutnya Coto, dan orang
Pekalongan menyebutnya Tauto
bahkan beberapa tempat ada yang menyebutnya Sauto.
Soto juga kemungkinan mendapat pengaruh dari budaya India. Ada beberapa soto yang menggunakan kunyit dan orang Jawa menambahkan perasan jeruk limau serta kemiri,
sedangkan dari Tionghoa sendiri
adalah penambahan bawang goreng kering yang diiris tipis, serbuk koya dan
bihun atau su'un.
Akulturasi inilah yang menyebabkan makanan lokal kita semakin nendang dilidah dan sulit ditiru oleh bangsa lain.
Kali ini saya menikmati soto nikmat yang sudah jadi langganan sejak saya masih imut imut,
Soto Babon ( babon = istilah untuk
ayam betina , konotasinya jadi lebih empuk dagingnya )
Lokasi : jl. Susamto ( Bentoel
lama , dekat pasar besi tua )
Jam buka 08.00 - 18.00 ( kadang
tutup lebih cepat kalau habis )
Mas Bibit sang pemilik yang ramah
melontarkan kata2 khasnya : Makan disini? koyok biasa'ne? ok boss......
Dari harga masih 800 rupiah th 1990 sampai sekarang jadi 8000 rupiah, rasa tidak berubah.
Nasi punel dengan topping ayam
suwir yang empuk, jerohan nikmat, dipadu su'un kenyal dan kubis segar. Disiram
kuah kuning panas mengepul yang menguarkan bau semerbak, soto ini memang
legenda dalam ingatan masa kecil saya .
Jangan lupa tambahkan perasan
jeruk nipis dan kucuran kecap manis serta sedikit sambal.
Nikmati segera gak usah toleh
kanan kiri :D
Yuk sarapan ...





No comments:
Post a Comment